Perang Bubat, Penyingkiran Gajah Mada dan Strategi Daha Menguasai Majapahit


Menurut versi sejarah populer Perang Bubat dikenal sebagai peristiwa pembantaian rombongan pengantin Calon permaisuri Prabu Hayam Wuruk oleh Patih Gajah Mada

Iringan tersebut dipimpin langsung oleh Raja Sunda Galuh, Prabu.. demi menemani dan menghadiri secara langsung prosesi pernikahan putrinya, di Istana Majapahit. Putri Dyah Pitaloka.

Kisah ini diambil dari Kidung Sunda, Kidung Sundayana , Carita Parahiyangan , dan juga Serat Pararaton .


Sekalipun banyak juga pihak dan pakar sejarah yang merasa keberatan atas kisah tersebut dengan mengatakan bahwa kitab kitab yang memuat kisah perang bubat versi ini adalah kisah buatan atau versi sejarah yang sengaja dipilih dan dipublikasikan oleh para penjajah yang ditulis oleh para pujangga yang dimaksudkan untuk membantu memuluskan langkah para penjajah melakukan politik pecah belah, alias devide et impera dengan menanamkan kebencian turun temurun atas 2 bangsa terbesar Nusantara, Bangsa Jawa dan bangsa Sunda.




Gajah Mada, Kambing Hitam Perang Bubat Dalam Sejarah Buatan Kolonial Perang Bubat Sunda Galuh - Majapahit 


Gajah Mada adalah seorang Patih yang sangat berjasa dalam Lembaran sejarah Hidup Kerajaan Majapahit, Ia dikenal sebagai Abdi Raja raja Majapahit yang sangat setia, taat kepada Para Raja dan Ratu Majapahit, serta sangat berbakat dalam mengurus pemerintahan dan perang sehingga dalam "Asuhannya" Para Raja Majapahit gilang gemilang namanya dan Kerajaan Majapahit memasuki zaman keemasannya.

Namun keberhasilannya tersebut tidaklah serta merta menjadikan seluruh pejabat Kerajaan bersenang hati kepadanya, lebih lebih pada para pejabat busuk dan dengki yang kerjanya hanya cari muka dan menginginkan kekuasaan yang lebih dan kekayaan yang terus menerus ingin ditumpuknya.

Gajah mada yang dengan tulus ingin mengabdi kepada Raja, Negara dan bangsanya secara tulus hanya mereka lihat sebagai batu besar ditengah jalan yang harus disingkirkan.


Dalam artikel ini, admin hanya ingin menuangkan uneg uneg pribadi admin atas sebuah kisah Perang Bubat yang fenomenal itu. Sebuah versi lain dari perang bubat yang merupakan kesimpulan dari analisis pribadi admin yang pasti sangat tidak wajib untuk anda percaya. tulisan ini hanyalah hasil sebuah tinjuan pribadi oleh admin yang tengah berdiskusi dengan dirinya sendiri dari data data yang admin dapatkan dari berbagai sumber.



Perang Bubat, Usaha Awal menyingkirkan Patih Gajah Mada dari Istana dalam rangka memuluskan Pemberontakan Daha (Kediri) atas Majapahit.





Dikisahkan bahwa Raja Majapahit, Prabu Hayam Wuruk tengah mencari permaisuri, Atas usulan dan bujukan para pejabat di kerajaannya, Prabu hayam wuruk akhirnya berniat memperistri Putri Dyah Pitaloka, seorang putri dari kerajaan sunda galuh, para pejabat kerajaan juga mengusulkan agar pesta pernikahan tersebut harus digelar di kerajaan Majapahit, usulan tersebut juga diterima oleh sang prabu, maka dengan segera Majapahit mengirim surat lamaran menuju kerajaan sunda galuh.

 Mendengar kabar tersebut, dengan berbagai pertimbangan akhirnya sang raja galuh pun menyambut baik dan sangat berkenan memberikan restu apabila sang putri dyah pitaloka dijadikan permaisuri Prabu Hayam Wuruk.

Sang Raja Kerajaan Galuh memutuskan untuk berangkat sendiri menemani sang puteri untuk bertemu dengan calon suaminya dengan dikawal sepasukan prajurit pilihan untuk mengamankan sang raja dan sang putri selama dalam perjalanan menuju istana Majapahit.

Berbeda dengan versi populer lainnya yang mengatakan rombongan pengantin dari kerajaan sunda galuh menggunakan jalur darat, atas pertimbangan keamanan, rombongan prabu menggunakan jalur laut untuk datang menuju istana Majapahit. Prabu.. membagi pasukan menjadi dua kelompok, kelompok pertama menemani sang prabu menuju Istana, dan kelompok satunya lagi bertugas menjaga keselamatan sang putri di dermaga.

Tanpa diduga, dalam perjalanan rombongan menuju istana, prabu galuh dihadang oleh pasukan khusus Majapahit yang jauh lebih banyak jumlahnya. Mereka berniat melenyapkan rombongan iring iringan sang calon pengantin Prabu hayam wuruk tersebut.

Singkat cerita, sang prabu dan pasukan kerajaan galuh gugur dalam pertempuran tersebut, Sementara rombongan sang putri masih menunggu di dermaga dan terkena wabah penyakit sehingga semuanya meninggal dunia, versi yang lebih populer mengatakan bahwa seluruh prajurit dan dayang dayang pengiring sang pengantin yang tengah berduka itu melakukan bela pati, bunuh diri masal sebagai protes atas kabar terbunuhnya sang Raja.

Laporan mengenai kejadian tersebut membuat murka Prabu Hayam Wuruk, Sang Raja menuduh Sang Patih terlibat dalam kasus tersebut dan meminta pertanggung jawaban Patih Gajah Mada sebagai kepala pemerintahan Majapahit.

Patih Gajah Mada yang merasa tidak tahu menahu dan tidak memberikan perintah pembantaian rombongan raja galuh tersebut bersikukuh mengelak atas tuduhan tersebut. Pada akhirnya Sang Patih yang telah sepuh dan mengabdikan hampir seumur hidupnya untuk mengabdi  di Kerajaan Majapahit selama 4 generasi itu dicopot jabatannya dan diusir dari istana dengan sangat tidak hormat oleh prabu hayam wuruk yang tengah murka itu.

Ibunda Prabu Hayam Wuruk, Ratu Tribuwana Tungga Dewi, berusaha meredam amarah putranya itu dan mengingatkan kembali atas jasa jasa Gajahmada yang telah mengabdi kepada majapahit hingga beberapa generasi tersebut. Namun nasehat sang Ibu Suri tidak sedikitpun dihiraukan oleh Sang Raja.

Gajah Mada Meninggalkan Majapahit.. 

Gambar Ilustrasi Mahapatih Gajah Mada sewaktu muda


 Dengan menanggung rasa kecewa dan sakit hati karena merasa dikambing hitamkan atas sabotase itu dan diperlakukan sedemikian kasar oleh junjungannya, Gajahmada pun pergi meninggalkan istana dan akhirnya bersemedi di sebuah gunung dan melakukan moksa (Meninggalkan alam Mayapada beserta Sukma dan Jasadnya).

 Menurut riwayat lain yang lebih populer Gajah Mada keluar meninggalkan wilayah kerajaan Majapahit dan akhirnya dimakamkan di sebuah desa di Filipina. Sedangkan Prabu Hayam wuruk akhirnya menikah dengan Paduka Sori, putri Bhre - Wengker, Raja Daha (Kerajaan Kediri)

Daha (Kediri) memberontak dan mengkudeta Prabu Brawijaya, Sang Raja Majapahit terakhir.

Sepeninggal Hayam Wuruk, penggantinya yakni Prabu Brawijaya v mulai menghadapi pemberontakan dari Daha, Istana Timur Majapahit yang berada di kediri, dimana tanpa sang pilar Kerajaan yang kokoh dan setia tersebut, Majapahit kacau balau dilanda perang saudara (Perang Paregreg). Majapahit pun berhasil di duduki oleh para pemberontak dari keluarga Kerajaan Kediri. Sementara Prabu Brawijaya V dan para abdinya yang setia mengungsi ke kerajaan Blambangan di Banyuwangi.

Putra Prabu Brawijaya, Mengambil kembali Kerajaan Ayahnya dari Cengkeraman Kediri

2 Tahun kemudian, Raden Patah, selaku Sultan Demak yang tidak lain adalah salah seorang Putra dari Prabu Brawijaya V berhasil menduduki kembali Istana Majapahit dan melenyapkan para pemberontak.

 Sunan Kalijaga selaku bagian dari dewan penasehat kerajaan Demak, menemui Prabu Brawijaya V untuk meminta pengesahan putranya tersebut sebagai penggantinya memimpin Majapahit. Hal ini bisa juga dinggap pula sebagai Penghargaan atas jasanya mengusir para pemberontak. Hanya saja Prabu Brawijaya tidak berkenan karena telah berniat menyerahkan tahtanya kepada sang putra mahkota yang lebih disayanginya.

Raden patah tidak menghiraukan penolakan ayahandanya tersebut, sehingga Istana Majapahit dibongkar, Senjata pusaka dan lambang negara dibawanya pulang kembali ke Kerajaan Demak Bintoro dan Ibukota Majapahit dijadikan hanya sebagai wilayah kantor kadipaten.

Alasan lainnya adalah karena tradisi dalam kerajaan2 Jawa yang menganggap bahwa Istana yang pernah dikuasai musuh sudah tidak layak lagi untuk dihuni seorang Raja Jawa.

Penutup

Maka dengan demikian, telah runtuhlah kerajaan Majapahit yang sangat megah itu, yang di awali dengan strategi gelap dan rapi untuk menyingkirkan Pilar utama Negara, Sang Mahapatih Gajah Mada melalui proses pengkambinghitaman dan pengusiran Sang Patih Sepuh yang sangat setia kepada Raja dan Negaranya itu, disusul oleh pernikahan Raja Majapahit dengan Putri Kediri dan selanjutnya pengambilalihan kekuasaan dari Prabu Brawijaya V atas Majapahit oleh Raja Daha (Kediri) sehingga nanti pemberontakan itu dapat diatasi oleh Raden Patah, Sang Putra Prabu Brawijaya V yang memutuskan untuk menutup Kerajaan Majapahit dengan menjadikannya sebagai bagian dari ilayah kerajaan Demak Bintara.


Wallahu a’lamu..






Kisah Asal Mula Bersiul Untuk Memanggil Angin dan Makhluk Halus


Benarkah Bersiul dapat Memanggil Angin dan Bangsa Lelembut? 

Ada suatu kepercayaan di tengah masyarakat Nusantara, terutama di Jawa yang mengatakan bahwa bersiul adalah semacam isyarat yang bisa digunakan untuk mengundang angin. "Mitos" mengenai hal ini biasanya sangat akrab dalam kehidupan anak-anak. (pun termasuk penulis sendiri yang ketika itu juga masih anak anak).

Anak anak yang sedang bermain layang layang


  Anak-anak yang sedang bermain layang layang pastinya membutuhkan tiupan angin yang cukup untuk dapat menerbangkan layang layang mereka.

Selain itu, kabarnya ada banyak juga orang yang berpendapat dan mengalami kejadian aneh ketika mereka bersiul di malam hari. Yakni mereka tiba tiba didatangi oleh makhluk halus, benar tidaknya cerita cerita tersebut kiranya masihbmenjadi suatu misteri.


"Mitos" yang berkembang ditengah masyarakat itu belum jelas datangnya dari mana dan hingga saat ini belum ada penelitian ilmiah pun yang memberikan komentar masuk akal akan hal itu, dan jangankan memberikan jawaban atas pernyataan tersebut, bahkan yang pasti para peneliti ilmiah pun rasanya akan geli dan tertawa duluan begitu mendengar hipotesis yang seperti itu.

 Penulis sendiri juga tidaklah bermaksud untuk mengadakan penelitian apapun tentang hal tersebut, hanya saja ketika penulis suatu hari berkunjung ke suatu forum di internet mengenai pertanyaan tentang benarkah bersiul dapat memanggil angin dan sekaligus dapat mengundang roh halus alias bangsa lelembut apabila seseorang bersiul di tengah malam.

 Penulis tiba tiba saja tergelitik dan jadi teringat akan sebuah episode dalam kisah pewayangan jawa yang menceritakan tentang perjalanan serta beberapa peristiwa yang dialami oleh Raden Palasara, leluhur para pandawa dan kurawa beserta para pembantunya, yang tidak lain adalah Semar dan Bagong. Jadi sebut saja kisah ini hanyalah semacam dugaan pribadi penulis saja bahwa mitos tentang datangnya angin dan bangsa lelembut ketika bersiul itu adaah dari kisah ini, dan yang pasti bisa jadi sangatlah tidak benar.

Nah agar tidak semakin penasaran, langsung saja kiya simak kisahnya, Selamat membaca..

Kisah Persahabatan Resi Palasara Dengan Prabu Gandarwaraja Swala

Alkisah dalam sebuah perjalanan Resi Palasara Bertemu dengan seorang Raja Makhluk Halus benama Prabu Gandarwaraja Swala.

Sang Raja bercerita tentang putranya yang bernama gandarwa supatra yang sangat nakal sekaligus sangat memalukan bagi seorang Raja yang terhormat, kenakalan tersebut yakni suka mengganggu para istri bangsa manusia, selain itu sang raja juga mengeluh bahwa anaknya itu tidak dapat dinasehati dan juga sangat pemarah.

Maka sang Resi pun berjanji untuk membantu menyelesaikan permasalahan sang Prabu gandarwaraja swala tersebut. Setelah dipanggil oleh Sang Gandarwaraja swala, gandarwa supatra pun akhirnya datang menghadap ayahandanya dan dipertemukanlah ia dengan Sang Resi Palasara. Singkat cerita gandarwaraja swalapun takhluk dan bersedia menjadi abdi bagi sang Resi dan berjanji untuk berhenti daei kenakalannya menggodai para isteri bangsa manusia, tidak hanya itu sang gandarwa supatra pun bahkan bersedia untuk ikut berkelana dan mengabdi kepada sang Resi Palasara.

Sang Prabu Gandarwaraja swala pun bersenang hati dan merasa berhutang budi pada Sang Resi Palasara, sang Raja juga berjanji akan selalu membantu sahabatnya itu kapanpun dibutuhkan, untuk memanggilnya Sang Raja Makhluk Halus tersebut berpesan cukup dengan bersiul saja, maka Sang Prabu Gandarwaraja swala akan segera datang kehadapannya. Setelah berpesan demikian maka Sang Gandarwaraja swala pun menghilang kembali ke kerajaannya.

Prabu Gandarwraja Swala tersebut adalah Pemuka para gandarwa, yakni suatu jenis makhluk halus yang dikenal memiliki kesaktian yang cukup dahsyat yakni dapat mendatangkan angin topan dan badai yang besar sehingga dapat menerbangkan suatu pasukan sekalipun.

Dan secara turun temurun dalam lanjutan kisah pewayangan tersebut, Gandarwaraja swala pun selalu setia untuk datang dan membantu hingga pada era para keturunan sahabatnya itu, Ritualnya tetap sama seperti yang dilakukan oleh sang Resi Palasara, yakni cukup bersiul untuk mengundangnya.

Untuk membaca kisah ini secara lebih lengkap dan detail, dapat anda baca kisah lengkapnya dengan meng klik link berikut ini.

Nah, dari cerita dalam babak Pewayangan Jawa kuno tersebut, kiranya dapat kita maklumi bahwa jika sekarang ini terdapat "mitos" dikalangan masyarakat, terutama di jawa yang mengatakan bahwa dengan bersiul maka kita dapat memanggil angin, dan juga dapat mengundang makhluk halus untuk datang kepada kita.

Wallahu a’lamu..


Kisah Cinta Mengharukan Sang Profesor | Sebuah Motivasi dan Hikmah dalam.Khutbah Nikah

Kisah Cinta Mengharukan Sang Profesor | Sebuah Motivasi dan Hikmah dalam.Khutbah Nikah



Selamat datang kembali pembaca,

Pada kesempatan kali ini saya ingin mengutipkan sebuah kisah lama yang mengharukan tentang perjuangan cinta sepasang kekasih yang penuh dengan derita dan nestapa yang pada akhirnya nanti mereka berdua mendapatkan kebahagiaan sejati dalam ikatan pernikahan mereka berdua yang telah mereka berdua pertahankan dengan sekuat tenaga. semoga bisa menjadi motivasi dan bahan renungan bagi kita semua. Selamat membaca, semoga bermanfaat..


"Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr.Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Direktur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua
mempelai. Kepada Professor dipersilahkan..."

Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.

Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu.



Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuwan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu...

Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu'ala Rasulillah, amma ba'du. Sebelumnya saya mohon ma'af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita...

Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambillah mutiaranya dan buanglah lumpurnya.

Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.
Tiga puluh tahun yang lalu ...
Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan "Pasha" yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma'adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini.
Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat.Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalanganaristokrat atau kalangan high class yang sepadan !

Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.

Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewahdengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.

Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah.

"Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja" tegas ayah.
Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.

Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.

Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.

Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.
Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!

Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira.

Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang cukur....tukang cukur, ya... sekali lagi tukang cukur! Saya katakan dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan "Pasha". Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan.

Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar? Dengan enteng ayah menjawab. "Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Ganzouri."
Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.
Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa- apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.

Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah- mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.

Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan.
Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?

Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma'dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma'dzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari'ah mengikuti mahzab imam Hanafi.

Ketika Ma'dzun menuntun saya, "Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah."

Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir.

Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma'dzun.

Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!
Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami.

"Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini. Maafkan Kanda!"

"Tidak... Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran.

Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini.

Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru.

Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita saat ini," jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.
Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.

Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.

Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang murah.
Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.
Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami.

Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan.

Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu saja... tak lebih.

Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta?

Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang- orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta.

Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT.

Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh segala cinta di surga. Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya.

Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur'an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi'ah Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 pound yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan.

Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang bilang tanpa disengaja,"Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya."

Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan-pertolongan mereka.
Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami.
Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.

Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor dan didobrak oleh 4 ..::makhluk yang lucu::.. kiriman ayah saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman, "Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan Pasha."
Yang mereka maksudkan dengan Tuan "Pasha" adalah ayah saya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat 'makhluk yang lucu' itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami masukkan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek
tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.
Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.

Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekat.
Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.

Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan isteri tercinta.

Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hamba-Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah SWT.

Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia & lepas dari belenggu derita:

Sambil menatap kaki langit
Kukatakan kepadanya
Di sana... di atas lautan pasir kita akan berbaring
Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba
Bukan karna ketiadaan kata-kata
Tapi karena kupu-kupu kelelahan
Akan tidur di atas bibir kita
Besok, oh cintaku... besok
Kita akan bangun pagi sekali
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka
Dan akan terbang bersama angin
Seperti burung-burung

Yah... saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk program Magister bersama !
"Gila... ide gila!!!" pikirku saat itu. Bagaimana tidak...ini adalah saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh
untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak:

"Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita."
Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.


Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran.
Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.

Siang hari, jangan tanya... kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.
Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernahmenyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.

Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya.

Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.
Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang sedang serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.

"Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang..." bisiknya mesra sambil tersenyum.
Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.

Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami.

Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.

Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang 'edan'. Ia kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak :

"Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan."


Kucium kening istriku, dan bismillah... kami berangkat ke London. Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis jantung.

Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas.
Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.
Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara. Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah SWT dan bertambahlan rasa cinta kami.

Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz..."
Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru.

Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.

sekian.

Kisah Seorang Arab Badui Yang Membuat Nabi Muhammad Menangis | Kisah Hikmah Islami


Ada banyak kisah Islami yang penuh hikmah yang dapat kita ambil suri tauladan, dan butiran kebijaksanaan dari kehidupan Sang Nabi Muhammad saw.

Adapun salah satunya adalah kisah yang cukup populer, yakni mengenai Kisah Haru sang Nabi yang bertemu dengan Seorang Arab Badui ketika beliau tengah melakukan thawaf di dekat ka’bah. Bagaimanakah kisah lengkapnya, mari kita segera menuju kepada kisahnya, selamat menikmati..


Dikisahkan, suatu ketika Rasulullah s.a.w. sedang khusyuk bertawaf di sekeliling Ka’bah. Nabi ketika itu juga mendengar seseorang di hadapannya yang juga tengah sibuk bertawaf sambil berzikir : “Ya Karim! Ya Karim!”

Rasulullah s.a.w. kemudian mengikutinya sambil meniru orang arab badui tersebut dengan membaca “Ya Karim! Ya Karim!”

Merasa ada yang mengikutinya, Orang Badui itu lalu berhenti berdzikir, kemudian ia menuju salah satu sudut Ka’bah untuk melanjitkan zikirnya kembali, sang arab badui itu kemudian berzikir kembali:

“Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah s.a.w. yang sedari tadi mengikutinya dari belakangnya kemudian mengikuti kembali zikir si badui “Ya Karim! Ya Karim!”

Kisah Si Arab Badui 

Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu kemudian menoleh ke belakang, maka terlihatlah olehnya seorang laki-laki yang gagah dan tampan yang belum pernah dikenalinya.

Orang itu Ialu berkata: “Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku? oleh sebab aku ini adalah seorang Arab Dusun? Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”


Mendengar kata-kata orang badui itu, Rasulullah s.a.w. pun tersenyum, kemudian beliau saw bertanya,

 “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?

 “Belum,” jawab orang itu.

 “Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?

 “Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,” kata orang Arab badwi itu pula.

 Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya, “Wahai orang Arab! Ketahuilah sesungguhnya aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!”

 "Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada telinga dan pandangan matanga sendiri.


“Tuan ini Nabi Muhammad?!”

“Ya” jawab Nabi s.a.w.

Kemudian Sang Arab badui itupun segera tunduk dan bermaksud mencium kedua kaki Rasulullah s.a.w.

Melihat hal itu, Rasulullah s.a.w. menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya:

 “Wahal orang Arab ! janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada Juragannya,

"Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita".


Ketika hal itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: “Ya Muhammad ! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan bersabda: “Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!”

Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi.


Maka Setelah Nabi memberitahukan perihal wahyu itu kepada sang arab badui, orang Arab itupun berkata:

“Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas
amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!” kata orang Arab badwi itu.

 “Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan?” Rasulullah bertanya kepadanya.

 ‘Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran ampunannya,’ jawab orang itu.

 ‘Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya.

Dan jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanannya!’


Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah s.a.w. pun menangis berlinangan air mata, mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya.

Lantaran hal itu Malaikat Jibril pun turun kembali seraya berkata:

“Wahai Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda, Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan la akan menjadikannya sebagai temanmu di syurga nanti!”

Betapa suka citanya orang Arab badwi itu, mendengar berita yang demikian, kini giliran si arab badui itu menangis berlinangan air mata karena tidak berdaya menahan rasa haru atas dirinya.