Kumpulan Kata Mutiara Emha Ainun Nadjib | Nasehat Kehidupan dan Kutipan Kata Motivasi Cak Nun

Kumpulan Nasehat dan Kutipan Kata Motivasi Kehidupan Emha Ainun Nadjib (Kata Mutiara Cak Nun)


Pada postingan kali ini admin akan kembali berbagi dengan para pembaca sekalian, mengenai Kumpulan Kata Kata Mutiara dan Nasehat Bijak Emha Ainun Nadjib atau yang biasa disebut cak nun tersebut, sekaligus untuk lebih mengenal lebih jauh tentang siapakah tokoh Indonesia yang bernama lengkap Muhammad Ainun Nadjib atau yang biasa disebut sebagai cak nun tersebut.


Bukan biografi, biodata atau semacamnya, namun yang akan lebih kita kenali dari sosok yang biasa dikenal sebagai Emha Ainun Nadjib atau di panggil Cak Nun ini adalah pengenalan melalui hasil pemikiran pemikiran beliau,  yakni telaah mengenai Kumpulan Kata Kata Mutiara Bijak Emha Ainun Nadjib, Kutipan kutipan Motivasi dari Cak Nun, Nasehat-Nasehat Spiritual beliau dll.


 Biasanya kata kata mutiara cak nun memang agak terdengar sedikit "aneh" bila anda masih baru saja mengenali karakter tulisan dan gaya bahasa beliau.

Pemilihan kata kata, istilah dan penggunaan struktur kalimat bijak yang digunakan oleh sosok Tokoh Agama dan Budayawan dengan Nama asli Muhammad Ainun Nadjib ini sangatlah khas, sangat unik dan mungkin juga akan terkesan "agak aneh bin nyeleneh" sehingga karena itu beliau digelari "Kyai Mbeling" oleh orang-orang yang tidak senang kepada beliau.


 Cak Nun itu "sesat dan berbahaya",  begitu kiranya sebagian tokoh dan agamawan menuding beliau, namun anda sebagai seorang manusia yang berakal dan sedang berusaha menjadi seorang manusia yang bijaksana, tentunya harus melakukan klarifikasi dan pembuktian pembuktian sendiri agar tidak sampai menganggap dan menuding seseorang hanya dari modal "katanya" dan "kabarnya" semata.


      Tokoh Indonesia paling fenomenal versi admin ini terlahir pada 27 Mei tahun 1953 lalu di Jombang, Jawa Timur yang kemudian di ber nama Muhammad Ainun Nadjib.

Tokoh yang sering dipanggil dengan sebutan Cak Nun saja oleh orang Jawa Timur itu tidak lain juga diakui oleh banyak khalayak (bahkan mayoritas) bangsa ini adalah sebagai sosok Bapak Bangsa yang sangat welas asih kepada bangsanya.


Negarawan yang teramat mencintai Negerinya dan Ulama yang begitu santun, sabar dan dewasa dalam membimbing dan memberikan teladan moral, sosial dan etika bernegara bagi seluruh warga negara ini bahkan juga warga negara negara lain, kaum muslimin Indonesia bahkan juga umat-umat beragama lain di Indonesia dan luar negeri.

Kiprah emha dalam menstabilkan suasana  politik baik pada masa sekarang maupun orde baru telah sangat dikenal oleh masyarakat luas, hanya saja pemerintah maupun media media Indonesia yang dikuasai oleh kekuatan asing seolah bersepakat untuk bersama sama enggan menuliskan segala sesuatu tentang usaha usaha beliau terhadap kestabilan negeri ini.

Sebut saja misalnya, tentang jasa beliau dalam menasehati sang Presiden terkuat RI kala itu, untuk turun tahta demi kebaikan bangsanya, Cak Nun juga bersedia mendampingi Presiden Soeharto sewaktu turun dari tahtanya yang kala itu sangat dimusuhi rakyatnya agar tidak muncul suatu sejarah buruk dalam carut marut refrmasi kala itu.

Atau tentang penyelesaian kasus korban lapindo yang berlarut larut , di mana belasan ribu keluarga meminta ganti rugi sekalipun mereka tidak punya lagi sertifikat tanah maupun bukti bukti lain yang otentik untuk dapat menerima hak nya kembali. Padahal pemerintah tidak punya uang untuk memberi bantuan untuk mereka dan keluarga Bakri sebagai pemilik lapindo telah divonis tidak bersalah dan tidak perlu bertanggung jawab dalam masalah lapindonkala itu.


 Dan tentunya sangat banyak permasalahan lainnya dari bangsa ini yang di bantu penyelesaiannya oleh beliau, hanya saja entah kenapa tidak pernah ada secuilpun jasa beliau yang di beritahukan kepada masyarakat umum.

Kiranya praktik praktik pembodohan semacam ini adalah banyak terjadi dalam panggung politik, sehingga yang muncul kepermukaan hanya tokoh tokoh politik dari kalangan artis maupun pemimpin pemimpin lawak yang benar benar jauh dari harapan bangsa. 

Cak nun dalam kesehariannya terus menerus setia menemani bangsa Indonesia di belakang layar, dalam konferensi bulanan di Jombang, Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, dan kota kota besar lainnya di Indonesia, Emha selalu berusaha membesarkan hati masyarakat dan membantu permasalahan dan kegeliasahan rakyat kecil yang datang kepada beliau.

Mungkin sedikit itulah prakata  yang bisa admin sampaikan, yang juga sekaligus sebagai sebuah sambutan dari saya. (walaupun kelihatan agak kepanjangan ya.. hehe.. 


Baiklah langsung saja kita simak bersama keindahan kata kata mutiara Emha Ainun Nadjib/ cak nun dan kedalaman makna serta gaya bahasa sastra beliau berikut ini, semoga terinspirasi  :-)




www.info-sipaijo.blogspot.com
(Kata Mutiara Cak Nun / Emha Ainun Nadjib)


“Kamu punya ruang dalam hatimu untuk merasakan hati para mbambung (gelandangan), sehingga hatimu sedih, getir, terimpit seribu gunung, sementara orang-orang pandai sibuk dengan program-program dan omong besar di koran-koran. Tuhan tidak bertanya padamu apakah kamu mampu menolong mbambung atau tidak, tapi melihat apakah kamu mencintai orang lemah atau tidak”
(Kata Bijak Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)
“Yang lebih kalian cari bukanlah kebaikan melainkan kekayaan, yang lebih kalian buru bukanlah keluhuran melainkan kenyamanan, dan pada posisi seperti itu kalian selalu merasa lebih tinggi derajat dibanding orang kecil. Coba hitunglah kehidupan di sekitarmu, hitung pula dirimu sendiri, temukan kemuliaan di sekitarmu. Belajarlah membedakan mana kemuliaan dan mana kehinaan, amatilah mana orang yang luhur dan mana yang hina, mana yang derajatnya tinggi dan mana yang rendah. Pakailah mata Allah sebagai ukuran” (Mutiara Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)

Ada yang bilang negeri ini “Negeri Selembar Kertas”, masyarakat kita “Masyarakat Selembar Ijazah”. silahkan ngomel sistem pendidikan kita tidak bermutu, kesempatan berpendidikan tidak paralel dengan kesempatan memperoleh kerja, atau canangkan proyek deschooling society (masyarakat tanpa sekolah), tapi pokoknya kalau ndak punya ijazah ya nasibnya lebih ndlahom (idiot, goblok, otak tak berisi) dibanding dengan yang punya ijazah (Kata Mutiara Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)


Agama diajarkan kepada manusia agar ia memiliki pengetahuan dan kesanggupan untuk menata hidup, menata diri dan alam, menata sejarah, kebudayaan, politik …. Tuhan mengajarkan kreatifitas terlebih dahulu (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)


Agama mengajarkan kepada manusia bagaimana menumbuhkan iman, menyusun pola-pola pembangunan suatu negeri, mengatur politik dan ekonomi, termasuk juga mengintensifkan bidang-bidang pendidikan pada level mana pun sedemikian rupa sehingga sedikit peluang bagi anggota masyarakat untuk mengalami kekecewaan sosial ekonomi serta kebingungan psikologis (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)


Baca juga : 



Anak-anak muda tak bisa hanya menggantungkan diri akan jadi pegawai negeri, pembengkakan populasi penduduk akan makin berbanding terbalik dengan penyediaan lapangan kerja, jadi yang akan tegak hidupnya adalah orang-orang yang bermental wiraswasta, yang tidak priyayi, yang ulet dan bersedia bekerja keras (Kata Kata Bijak Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Anda tak bisa menghakimi ekspresi seseorang hanya dengan melihat bunyi kata-katanya, melainkan Anda harus perhatikan nadanya, nuansanya, letak masalahnya (Kata Mutiara Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)


Apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah? Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian manusia sehingga ia makin sanggup memahami orang lain? (Kata Bijak Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)

Nasehat Cak Nun Agar tidak Gampang Sesat dan Menyesatkan orang lain.

Agama itu letaknya di dapur. Tidak masalah mau pakai wajan merk apa di dapur, yang utama adalah makanan yang disajikan di warung sehat. Maka ukuran keberhasilan orang beragama bukan pada sholat atau umrohnya, melainkan pada perilakunya.” (Kata Mutiara Cak Nun)


Bukan agama kalau turun ke bumi hanya untuk pandai memerintah dan melarang. Sebelum Adam dilarang makan buah khuldi, dia diberi pelajaran terlebih dahulu mengenai “nama benda-benda”, mengenai segala yang mesti diketahuinya dalam kehidupan (Kata Mutiara Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)




Bukanlah hidup kalau sekadar untuk mencari makan, bukankah sambil bekerja seseorang bisa merenungkan suatu hal, bisa berzikir dengan ucapan yang sesuai dengan tahap penghayatan atau kebutuhan hidupnya, bisa mengamati macam-macam manusia, bisa belajar kepada sebegitu banyak peristiwa, Bisa menemukan hikmah-hikmah, pelajaran dan kearifan yang membuat hidupnya semakin maju dan baik (Kata Mutiara Cak Nun/Emha Ainun Nadjib)



Dalam pengadilan di Indonesia, kadang kita harus memilih alternatif yang terbaik di antara yang terkutuk, dengan menyisakan sedikit harapan bahwa hati nurani manusia tidak semuanya terdiri atas buku (Kata mutiara Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)


Demokrasi itu penuh ironi dan ranjau kalau manusia tak menguasai manajemenuntuk menggunakannya, demokrasi hanya bisa menjawab beberapa problem hidup, tapi problem yang lain membutuhkan nilai yang lebih tinggi daripada demokrasi (Kata kata mutiara Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)


Dunia ini masih dipimpin oleh orang yang lebih memilih kenyang meskipun dijadikan budak daripada lapar tapi bertahan harga dirinya (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)


Hakikat hidup bukanlah apa yang kita ketahui, bukan buku-buku yang kita baca atau kalimat-kalimat yang kita pidatokan, melainkan apa yang kita kerjakan, apa yang paling mengakar di hati, jiwa dan inti kehidupan kita (Kata Bijak Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)


Hidup ini sangat luas dan dimensi-dimensi persoalannya tak terhingga, untuk itu diperlukan bukan sekadar wawasan yang luas dan pengetahuan yang terus dicari melainkan juga kearifan dan sikap luhur yang konsisten dari hari ke hari (Kata Bijak Cak Nun)



Jiwanya seniman itu bagaikan ruang kosong, tak ada lemari atau kotak-kotak yang bisa dipakai untuk menyembunyikan sesuatu, segalanya tampak jelas dan jujur di mata
 (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)
www.info-sipaijo.blogspot.com
Kata Bijak Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)



Kalau kita jadi negara industri tidak berarti bahwa segalanya akan beres, tak berarti kita akan terbebas dari kemiskinan, kebodohan atau kekejaman kekuasaan. Industri hanyalah sebuah cara di antara kemungkinan cara-cara lain yang dianggap bisa membantu menyejahterakan masyarakat. (Nasehat Bijak Cak Nun)



Kalau para mahasiswa bercita-cita hendak menjadi pemimpin bangsa, sejak sekarang harus berlatih menampung bermacam-macam gejala manusia, di dalam pergaulan mereka tidak boleh memakai kerangka “menang-kalah” apalagi memakai interest egonya belaka, melainkan mempertimbangkan kepentingan bersama, dan untuk itu diperlukan kesabaran dan kearifan terhadap berbagai kemungkinan yang muncul dari “rakyat” mereka, tidak boleh gemedhé (merasa paling pintar, sombong) (Kata Mutiara Cak Nun)



Kalau seseorang bersikap kreatif untuk menemukan apa saja hal baik yang bisa dikerjakan dalam hidup ini, jam-jamnya tidak akan sempat ia gunakan untuk sedih atau meratap, sebab sudah habis untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik (Kata Kata Bijak Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)


Kalau seseorang menjadi pemimpin, ia tak sekadar memimpin masyarakat manusia, tapi juga memimpin masyarakat makhluk yang luas, ia memimpin hak-hak binatang, hutan, lautan, barang tambang …. di situlah antara lain terletak kesalahan ideologi pembangunan modern yang merusak alam, bahkan merusak manusia (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)


Kearifan-kearifan agama harus diterjemahkan ke dalam sistem nilai pengelolaan sejarah, kebudayaan dan peradabannya (Kata Mutiara Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)


“Kamu harus membedakan konteks perbedaan pendapat dalam politik dengan pergaulan kemanusiaan. Jangan menganggap pejabat pasti jelek dan rakyat biasa pasti baik, pandangan seperti itu tidak adil, ada urusan dan konteksnya sendiri-sendiri” (Kata Bijak Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Kebanyakan orang tak bisa tidur, mereka hanya tertidur, karena sepanjang siang dan malam hari mereka diberati oleh dunia (PROFIL Emha Ainun Nadjib/ Cak Nun)

Kebersihan luas maknanya, kebersihan ruang dan kampung hanyalah satu hal, hal lain adalah kebersihan jiwa manusia itu sendiri, kebersihan pergaulan antar manusia, baik pergaulan sosial, pergaulan ekonomi, pergaulan politik dan hukum (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)

Keceriaan dan kenyamanan hidup tidak terlalu bergantung pada hal-hal di luar manusia melainkan bergantung pada kekayaan batin di dalam diri manusia (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Kematian terkadang merupakan kritik terhadap kehidupan, Tuhan mengambil nyawa seseorang tak semata dalam rangka menyayangi orang itu tapi juga sekaligus memberi peringatan kepada semua yang ditinggalkan oleh almarhum (Kata Mutiara Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)


Kreatifitas berpikir orang Barat harus kita tiru, tapi ekses dari kebudayaan teknologis yang terlalu memanjakan kebinatangan, sebaiknya kita cegah sejak sekarang. (Kata mutiara cak nun)



Setiap badan perencanaan pembangunan harus melibatkan para agamawan, budayawan, negarawan, filosof, seniman,orang-orang kecil awam yang arif…. Kita jangan hanya dipimpin oleh tender-tender. (kata kata mutiara cak nun)


Manusia diberi-Nya kesanggupan untuk beradaptasi terhadap bermacam situasi, manusia dikasih-Nya darah, naluri dan kecerdasan agar ia tetap saja mampu menyelenggarakan kebahagiaan, meskipun dengan suku cadang yang terendah nilainya ia bisa menghasilkan ramuan kebahagiaan yang jauh melebihi taraf kebahagiaan yang dirajut dengan kemewahan (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)




Manusia harus jernih memandang dan menilai sesuatu, boleh pakai cara pandang kelas, boleh agak hitam-putih tentang masalah tertentu, tapi harus selalu dikembalikan pada kerangka pandang yang lebih universal, yang melihat manusia sebagai suatu keutuhan, yang memiliki kelebihan dan kekurangan, benar sekaligus salah (Kata Mutiara Cak Nun)

Manusia jangan menunggu hancur dulu baru insaf (Kata Mutiara Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)

Menyepi itu penting, supaya kamu benar-benar bisa mendengar apa yang menjadi isi dari keramaian

Orang boleh kaya raya, persoalannya bagaimana kekayaan itu diperoleh, kemudian bagaimana sikapnya terhadap kekayaan tersebut. Juga kalau miskin! (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



www.info-sipaijo.blogspot.com
Muhammad Ainun Nadjib

Orang boleh salah, agar dengan demikian ia berpeluang menemukan kebenaran dengan proses autentiknya sendiri (Kata Mutiara Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)


Orangtua kita mengajarkan suatu nilai yang membedakan dua jenis anak, yang patuh tanpa reserve, yang pejah gesang nderek (hidup-mati ikut), disebut “anak baik-baik”, sedangkan yang mencoba rasional, memilih otoritasnya, meskipun itu justru sejalan dengan “lorong keadilan” disebut “anak nakal. (Kata Bijak Cak Nun)


Para pekerja agama tidak mengantarkan hakikat Tuhan sebagai Mahasubjek yang penuh rasa cinta, rasa sayang dan kesediaan tanpa batas untuk membahagiakan manusia (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)


Peraturan dan undang-undang tidak slalu sama dengan keadilan, ia bahkan bisa saja bertentangan dengan prinsip keadilan. Undang-undang memiliki relativitasnya sendiri dan tidak mutlak sebagaimana firman Tuhan (Kata Bijak Cak Nun).




  • Perjuangan ialah perjuangan. Sejarah dan Tuhan tidak mencatat kemenangan atau kekalahan, tetapi yang dicatat adalah perjuangan itu sendiri (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)


Politik diciptakan dan dimanifestasikan berdasarkan filosofi dan tujuan untuk menyediakan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi manusia, tapi yang terjadi adalah sama sekali kebalikannya (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)


Secara filosofis, sesungguhnya tak ada “orang besar” dan tak ada “orang kecil” dalam takaran pemilikan ekonomi atau perbedaan status sosial budaya. Kecil dan besar hanya terjadi pada kualitas kepribadian (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Tuhan banyak diperkenalkan oleh pemimpin-pemimpin agama sebagai “algojo” yang kejam, “polisi” yang selalu curiga atau “hantu” yang kehadirannya di hati manusia selalu menimbulkan rasa waswas, cemas, ngeri dan penuh ancaman. Agama kurang diperkenalkan sebagai berita gembira dan janji cinta, melainkan sebagai tukang cambuk, pendera dan satpam yang otoriter (Kata Mutiara Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)



Yang menguasai dunia adalah ketelanjuran sistem-sistem internasional yang merupakan lingkaran setan yang memenjarakan manusia, terutama orang-orang kecil. Apalagi sistem-sistem besar itu tidak sungguh-sungguh untuk manusia dan kemanusiaan, tetapi untuk mitos-mitos yang bernama kemajuan, modernisasi, metropolitanisasi, yang keseluruhannya menjebak manusia dalam ketersesatan filosofi, keterjerembaban politik dan ekonomi serta kebuntuan budaya.(Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)


Kata ahli pedang, ilmu pedang tertinggi adalah kalau sudah bisa membelah kapas yang melayang-layang tanpa mengubah arah gerak kapas itu. Aneh, ujian tertinggi bagi keahlian pedang bukanlah baja atau batu karang melainkan kapas. Kekerasan yang telah mencapai puncaknya berubah menjadi kelembutan, kelembutan tak bisa dikalahkan oleh kekerasan (Mutiara Emha Ainun Nadjib/Cak Nun)

Yang penting bukan apakah kita menang atau kalah, Tuhan tidak mewajibkan manusia untuk menang sehingga kalah pun bukan dosa, yang penting adalah apakah seseorang berjuang atau tak berjuang (Emha Ainun Nadjib / Cak nun).



Demikianlah Kumpulan Kata Mutiara, Nasehat Bijak dan kata kata Motivasi dari Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), Semoga Bermanfaat bagibkita semua.



Baca Juga Artikel Lainnya :

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »